Hakikat Manusia yang Mukhlis

Oleh : Rakhmawati Aulia 

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

"Orang mukmin yang mukhlis karena Allah adalah orang yang paling baik hidupnya, paling tenang pikirannya, paling lapang dadanya, dan paling gembira hatinya. Ini adalah surga yang disegerakan sebelum surga yang abadi."

----
Tak sedikit dari kita pada kenyataanya terjebak dalam keshalihan diri. Padahal sebagai seorang muslim kita harus menaikan level diri menjadi versi terbaik, tidak mencukupkan diri hanya menjadi orang yang shalih.

Ada derajat yang memang harus dikejar yaitu menjadi orang yang mukhlis. Ternyata menjadi Shalih itu sangat mudah dilakukan, tapi menjadi orang yang mukhlis butuh effort yang besar.

Emang apa bedanya orang yang Shalih dan orang yang mukhlis?

Orang shalih itu melakukan kebaikan untuk dirinya, orang yang mukhlis menyerukan kebaikan selain untuk dirinya tapi juga orang lain. Orang shalih itu akan sangat mudah dicintai manusia, sedangkan penyeru kebaikan (orang mukhlis) dimusuhi manusia.

Berkaca dari kisah kehidupan Rasulullah Saw. Pada awalnya beliau dicintai dan dipuja kaumnya atas kebaikan yang tercermin pada diri beliau. Namun ketika Islam datang lalu beliau serukan kepada kaumnya, beliau dimusuhi dan dibenci.

Sesuatu yang alamiah akan terjadi, sebab mengajak orang kepada kebaikan itu memang lebih susah dari sekedar menjadikan diri pribadi menjadi baik. Wajarlah kalau orang yang mukhlis memiliki derajat yang istimewa di sisi Allah Taala.

“Berkata ahli ilmu: Satu penyeru kebaikan (Mushlih) lebih dicintai Allah daripada ribuan orang Shalih (yang tidak menyerukan kebaikkan). Sesungguhnya melalui penyeru kebaikan itulah, Allah menjaga umat ini, sedangkan orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri”. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media dan Framing Buruk yang Menyudutkan