Langsung ke konten utama

Postingan

Gaya Hidup Konsumtif dan Gunung Sampah

Di era digital yang serba instan, sekat antara kebutuhan dan keinginan kini kian memudar. Platform belanja daring dan gempuran iklan di media sosial terus memanjakan mata tanpa henti. Didukung kecanggihan algoritma, tren terbaru seolah lihai menciptakan rasa "perlu" pada sesuatu yang sejatinya hanyalah "ingin". Akibatnya, rumah kita sesak oleh barang tak terpakai, sementara di luar sana, produksi sampah dunia melonjak tajam. Sistem yang Berorientasi Materi Fenomena konsumerisme ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari sistem ekonomi kapitalis sekuler yang tengah mencengkeram dunia. Dalam paradigma ini, kebahagiaan hanya diukur dari kepemilikan materi. Orientasi utamanya bukanlah kemaslahatan manusia atau kelestarian bumi, melainkan akumulasi keuntungan bagi para pemilik modal. Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK memperkirakan Indonesia menghasilkan sekitar 33,79 juta ton sampah sepanjang tahun 2024. Meskipun angka ini se...
Postingan terbaru

Dakwah Sebagai Poros Hidup

(Dikutip dari saluran WA Motivasi Ideologis, yang mau join silakan klik di sini ) Seorang aktivis partai, ia harus yakin sepenuhnya bahwa eksistensi diri ia dalam kehidupan hanya ditujukan untuk Islam. la hidup dengan dan untuk Islam. Oleh karena itu, mabda dan partai merupakan poros yang di sekitarnya berputar kepentingan-kepentingan pribadi. Lebih dari itu, apa yang ia kerjakan dalam kehidupan ini hanya untuk menyebarkan dan menjaga ideologinya.  Sesungguhnya dalam mengemban dakwah, ia telah menjual jiwa dan hartanya untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Allah SWT berfirman: إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Taubah, 9:111) Dalam kondisi seperti ini, ia tidak boleh menyibukkan diri dengan aktivitas yang bertentangan dengan dakwah atau bertentangan dengan syariat, baik dari sisi kebiasa...

Pelajar Terjebak Menjadi Pengedar Sabu, Buah di Terapkannya Sistem Sekularisme

Oleh : Rakhmawati Aulia Dunia pendidikan Indonesia kembali diguncang oleh kabar pilu yang mencoreng wajah generasi. Di Bima, NTB, seorang pelajar berinisial KF tertangkap tangan bersama rekannya saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah (RRI, 30/03/2026) . Tak berselang lama, di Kendari, Sulawesi Tenggara, seorang pelajar berinisial HS (19) diringkus dengan puluhan paket sabu siap edar. Dari kesaksian pelaku pun, polisi menemukan sedikitnya lima titik lokasi tempat penyimpanan sabu. Kasus keterlibatan pelajar dalam pengedaran sabu tentu ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja, melainkan bukti nyata bahwa kerusakan moral telah menembus dinding-dinding sekolah. Pelajar yang seharusnya menjadi aset masa depan bangsa, generasi penerus bangsa, kini justru menjadi pion dalam jaringan peredaran gelap narkotika. Mengapa bisa terjadi? Kegagalan Sistemik dan Keringnya Ruang Spiritual Mengapa pelajar bisa terjebak menjadi pengedar? Jika kita hanya menyalahkan individu, maka k...

Skandal Petrodolar : Benteng Keamanan atau Belenggu Kedaulatan?

Berdirinya pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Di balik kehadiran militer tersebut, terdapat narasi besar mengenai upaya AS mempertahankan dominasi global melalui sistem keamanan yang berkelindan dengan ekonomi. Akar masalah ini bermula pada era 1970-an, saat nilai dolar AS mengalami guncangan hebat dan terancam runtuh setelah dilepaskan dari standar emas (Nixon Shock). Di sisi lain, Arab Saudi sedang menikmati masa booming minyak yang menjadikannya negara kaya baru dalam waktu singkat. Kondisi ini menarik perhatian Henry Kissinger, tokoh diplomasi AS, yang melihat peluang untuk menyelamatkan ekonomi negaranya melalui Arab Saudi. AS datang menawarkan skema pertukaran yang kini kita kenal sebagai sistem Petrodolar. Dalam kesepakatan ini, Saudi setuju untuk menjual minyaknya hanya dalam mata uang dolar AS. Sebagai imbalannya, Washington memberikan jaminan perlindungan militer penuh bagi kerajaan tersebut. Lebih jauh lagi, Saudi mengi...

Media dan Framing Buruk yang Menyudutkan

  Narasi menyudutkan yang tayang dalam program Exposed Trans 7 menyoroti kehidupan dan tradisi di pondok secara tidak utuh. Sontak menimbulkan reaksi dari publik dan menuai banyak kritik.  Framing jahat yang menyerang pesantren bukan pertama kali terjadi, kasus ini hanyalah kisah yang berulang-ulang terhadap ulama, pesantren, kelompok dakwah dan simbol Islam lainnya. Intinya, ini hanya salah satu kasus yang sasarannya ingin membidik Islam hingga terkesan buruk.  Tentu ini sesuatu hal yang berbahaya, terlebih ditayangkan dalam media dan dikonsumsi oleh semua kalangan masyarakat. Melalui kasus framing ini, menunjukkan wajah asli media dalam peradaban kapitalisme. Meski sudah bukan rahasia lagi kalau media tidaklah bersifat netral. Ketika sebuah narasi dikontrol berdasarkan kepentingan dalam agenda setting, media akhirnya menjadi corong untuk memuluskan kepentingan tersebut.  Media dalam kehidupan peradaban Kapitalisme bukan hanya sekadar sebuah industri. Dalam sistem...

Hakikat Manusia yang Mukhlis

Oleh : Rakhmawati Aulia  Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: " Orang mukmin yang mukhlis karena Allah adalah orang yang paling baik hidupnya, paling tenang pikirannya, paling lapang dadanya, dan paling gembira hatinya. Ini adalah surga yang disegerakan sebelum surga yang abadi ." ---- Tak sedikit dari kita pada kenyataanya terjebak dalam keshalihan diri. Padahal sebagai seorang muslim kita harus menaikan level diri menjadi versi terbaik, tidak mencukupkan diri hanya menjadi orang yang shalih. Ada derajat yang memang harus dikejar yaitu menjadi orang yang mukhlis. Ternyata menjadi Shalih itu sangat mudah dilakukan, tapi menjadi orang yang mukhlis butuh effort yang besar. Emang apa bedanya orang yang Shalih dan orang yang mukhlis? Orang shalih itu melakukan kebaikan untuk dirinya, orang yang mukhlis menyerukan kebaikan selain untuk dirinya tapi juga orang lain. Orang shalih itu akan sangat mudah dicintai manusia, sedangkan penyeru kebaikan (orang mukhlis) dimusuhi manusia. Berkac...