Media dan Framing Buruk yang Menyudutkan

 


Narasi menyudutkan yang tayang dalam program Exposed Trans 7 menyoroti kehidupan dan tradisi di pondok secara tidak utuh. Sontak menimbulkan reaksi dari publik dan menuai banyak kritik. 

Framing jahat yang menyerang pesantren bukan pertama kali terjadi, kasus ini hanyalah kisah yang berulang-ulang terhadap ulama, pesantren, kelompok dakwah dan simbol Islam lainnya. Intinya, ini hanya salah satu kasus yang sasarannya ingin membidik Islam hingga terkesan buruk. 

Tentu ini sesuatu hal yang berbahaya, terlebih ditayangkan dalam media dan dikonsumsi oleh semua kalangan masyarakat.

Melalui kasus framing ini, menunjukkan wajah asli media dalam peradaban kapitalisme. Meski sudah bukan rahasia lagi kalau media tidaklah bersifat netral.

Ketika sebuah narasi dikontrol berdasarkan kepentingan dalam agenda setting, media akhirnya menjadi corong untuk memuluskan kepentingan tersebut. 

Media dalam kehidupan peradaban Kapitalisme bukan hanya sekadar sebuah industri. Dalam sistem demokrasi, media sebagai pilar keempat artinya memiliki peran yang sangat vital. Media dijadikan sebagai mesin propaganda yang digunakan untuk menyerang dan membidik sasaran. 

Selama media masih dikuasai ideologi Kapitalisme, framing buruk seputar Islam akan terus menggema, perang opini pun akan terus berlangsung. Islam sebagai sebuah ideologi yang memiliki potensi untuk muncul sebagai kekuatan yang diemban negara di masa depan, tentu menjadi ancaman bagi keberlangsungan eksistensi Kapitalisme sekuler. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hakikat Manusia yang Mukhlis