Berdirinya pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Di balik kehadiran militer tersebut, terdapat narasi besar mengenai upaya AS mempertahankan dominasi global melalui sistem keamanan yang berkelindan dengan ekonomi.
Akar masalah ini bermula pada era 1970-an, saat nilai dolar AS mengalami guncangan hebat dan terancam runtuh setelah dilepaskan dari standar emas (Nixon Shock). Di sisi lain, Arab Saudi sedang menikmati masa booming minyak yang menjadikannya negara kaya baru dalam waktu singkat. Kondisi ini menarik perhatian Henry Kissinger, tokoh diplomasi AS, yang melihat peluang untuk menyelamatkan ekonomi negaranya melalui Arab Saudi.
AS datang menawarkan skema pertukaran yang kini kita kenal sebagai sistem Petrodolar. Dalam kesepakatan ini, Saudi setuju untuk menjual minyaknya hanya dalam mata uang dolar AS. Sebagai imbalannya, Washington memberikan jaminan perlindungan militer penuh bagi kerajaan tersebut. Lebih jauh lagi, Saudi menginvestasikan kembali surplus kekayaan minyaknya ke dalam obligasi negara AS (US Treasuries). Langkah ini secara efektif menstabilkan posisi dolar dan menetapkannya sebagai mata uang cadangan utama dunia hingga hari ini.
Aliran dana yang masif ini kemudian mengalir ke berbagai sektor, termasuk memperkuat industri militer AS sendiri.
Kesepakatan yang dilakukan menciptakan hubungan ketergantungan yang dilematis. Selama aspek keamanan dan stabilitas ekonomi bertumpu pada sistem ini, maka ruang gerak diplomatik untuk membela kepentingan kolektif umat Islam akan selalu terbatas. Kedaulatan politik sulit dicapai ketika aset kekayaan negara "terparkir" dan dikelola oleh sistem ekonomi pihak yang memiliki agenda berbeda.
Ketergantungan ini merupakan peringatan bagi umat Islam untuk kembali pada kemandirian dan persatuan kaum muslim. Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur'an mengenai batasan dalam menjadikan pihak di luar kalangan beriman sebagai pelindung / penolong, sebagaimana firman-Nya dalam QS. An-Nisa: 144:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin/pelindung dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?"
Ketergantungan terhadap kekuatan asing hanya akan melemahkan posisi umat. Sebaliknya, persatuan kaum muslimin yang berlandaskan ukhuwah Islamiyah adalah kunci untuk menciptakan kekuatan tanpa batas. Sebagaimana perintah Allah dalam QS. Ali 'Imran: 103: "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." Hanya dengan melepaskan diri dari belenggu ketergantungan ekonomi dan militer asing, serta membangun kemandirian kolektif, kaum muslimin dapat berdiri tegak sebagai kekuatan berdaulat yang mampu membela hak-hak kaum muslim di mata dunia. []

Komentar
Posting Komentar