Langsung ke konten utama

Dakwah Sebagai Poros Hidup

(Dikutip dari saluran WA Motivasi Ideologis, yang mau join silakan klik di sini)

Seorang aktivis partai, ia harus yakin sepenuhnya bahwa eksistensi diri ia dalam kehidupan hanya ditujukan untuk Islam. la hidup dengan dan untuk Islam. Oleh karena itu, mabda dan partai merupakan poros yang di sekitarnya berputar kepentingan-kepentingan pribadi. Lebih dari itu, apa yang ia kerjakan dalam kehidupan ini hanya untuk menyebarkan dan menjaga ideologinya. 

Sesungguhnya dalam mengemban dakwah, ia telah menjual jiwa dan hartanya untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Taubah, 9:111)

Dalam kondisi seperti ini, ia tidak boleh menyibukkan diri dengan aktivitas yang bertentangan dengan dakwah atau bertentangan dengan syariat, baik dari sisi kebiasaannya, misalnya bekerja di bank, atau tempat perjudian, dan lain sebagainya. la juga tidak boleh menjadi anggota di organisasi-organisasi yang bergelut dengan keharaman seperti valas, perseroan saham, dan sebagainya. 

la juga tidak boleh bekerja yang bisa melupakan atau memalingkan dirinya dari dakwah, seperti bekerja di sepanjang siang atau bekerja di sepanjang malam di mana tidak ada dakwah di dalamnya; atau bekerja yang tidak memungkinkan dirinya untuk melakukan kontak dengan masyarakat serta bergaul, berdiskusi, atau mendakwahkan pemikiran kepada mereka. Contoh untuk hal ini sangatlah banyak. Misalnya, ia bekerja di pertanian yang menyita seluruh waktunya, di balai-balai kerja, pabrik, atau yang lain. 

Buku Politik Partai, klik di sini!

Jika seorang aktivis partai memegang teguh perkara ini, artinya ia tidak menyibukkan diri dengan pekerjaan yang bertentangan dengan dakwah atau pekerjaan yang dapat melupakan dakwah, maka dalam kondisi seperti ini ia telah mampu melampaui hambatan-hambatan ini sekaligus telah menjadikan dakwah sebagai poros kewaspadaannya dan sumbu putar dalam mengatur kepentingan-kepentingannya. 

Kepentingan-kepentingannya akan berputar di sekitar dakwah dan dakwah adalah landasan dasar kehidupannya. la tidak menjadikan dakwahnya berputar mengikuti kepentingan-kepentingannya, yakni ia akan berdakwah jika ada waktu senggang, dan akan meninggalkan dakwah ketika dakwah berbenturan dengan kepentingan-kepentingannya, atau ketika dakwah akan menghancurkan kepentingannya dan menyebabkan dirinya terkena siksaan. 

Sumber: Muhammad Hawari, Politik Partai, halaman 210-211

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media dan Framing Buruk yang Menyudutkan

  Narasi menyudutkan yang tayang dalam program Exposed Trans 7 menyoroti kehidupan dan tradisi di pondok secara tidak utuh. Sontak menimbulkan reaksi dari publik dan menuai banyak kritik.  Framing jahat yang menyerang pesantren bukan pertama kali terjadi, kasus ini hanyalah kisah yang berulang-ulang terhadap ulama, pesantren, kelompok dakwah dan simbol Islam lainnya. Intinya, ini hanya salah satu kasus yang sasarannya ingin membidik Islam hingga terkesan buruk.  Tentu ini sesuatu hal yang berbahaya, terlebih ditayangkan dalam media dan dikonsumsi oleh semua kalangan masyarakat. Melalui kasus framing ini, menunjukkan wajah asli media dalam peradaban kapitalisme. Meski sudah bukan rahasia lagi kalau media tidaklah bersifat netral. Ketika sebuah narasi dikontrol berdasarkan kepentingan dalam agenda setting, media akhirnya menjadi corong untuk memuluskan kepentingan tersebut.  Media dalam kehidupan peradaban Kapitalisme bukan hanya sekadar sebuah industri. Dalam sistem...

Hakikat Manusia yang Mukhlis

Oleh : Rakhmawati Aulia  Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: " Orang mukmin yang mukhlis karena Allah adalah orang yang paling baik hidupnya, paling tenang pikirannya, paling lapang dadanya, dan paling gembira hatinya. Ini adalah surga yang disegerakan sebelum surga yang abadi ." ---- Tak sedikit dari kita pada kenyataanya terjebak dalam keshalihan diri. Padahal sebagai seorang muslim kita harus menaikan level diri menjadi versi terbaik, tidak mencukupkan diri hanya menjadi orang yang shalih. Ada derajat yang memang harus dikejar yaitu menjadi orang yang mukhlis. Ternyata menjadi Shalih itu sangat mudah dilakukan, tapi menjadi orang yang mukhlis butuh effort yang besar. Emang apa bedanya orang yang Shalih dan orang yang mukhlis? Orang shalih itu melakukan kebaikan untuk dirinya, orang yang mukhlis menyerukan kebaikan selain untuk dirinya tapi juga orang lain. Orang shalih itu akan sangat mudah dicintai manusia, sedangkan penyeru kebaikan (orang mukhlis) dimusuhi manusia. Berkac...

Skandal Petrodolar : Benteng Keamanan atau Belenggu Kedaulatan?

Berdirinya pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Di balik kehadiran militer tersebut, terdapat narasi besar mengenai upaya AS mempertahankan dominasi global melalui sistem keamanan yang berkelindan dengan ekonomi. Akar masalah ini bermula pada era 1970-an, saat nilai dolar AS mengalami guncangan hebat dan terancam runtuh setelah dilepaskan dari standar emas (Nixon Shock). Di sisi lain, Arab Saudi sedang menikmati masa booming minyak yang menjadikannya negara kaya baru dalam waktu singkat. Kondisi ini menarik perhatian Henry Kissinger, tokoh diplomasi AS, yang melihat peluang untuk menyelamatkan ekonomi negaranya melalui Arab Saudi. AS datang menawarkan skema pertukaran yang kini kita kenal sebagai sistem Petrodolar. Dalam kesepakatan ini, Saudi setuju untuk menjual minyaknya hanya dalam mata uang dolar AS. Sebagai imbalannya, Washington memberikan jaminan perlindungan militer penuh bagi kerajaan tersebut. Lebih jauh lagi, Saudi mengi...