Langsung ke konten utama

Pelajar Terjebak Menjadi Pengedar Sabu, Buah di Terapkannya Sistem Sekularisme

Oleh : Rakhmawati Aulia


Dunia pendidikan Indonesia kembali diguncang oleh kabar pilu yang mencoreng wajah generasi. Di Bima, NTB, seorang pelajar berinisial KF tertangkap tangan bersama rekannya saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah (RRI, 30/03/2026) . Tak berselang lama, di Kendari, Sulawesi Tenggara, seorang pelajar berinisial HS (19) diringkus dengan puluhan paket sabu siap edar. Dari kesaksian pelaku pun, polisi menemukan sedikitnya lima titik lokasi tempat penyimpanan sabu.

Kasus keterlibatan pelajar dalam pengedaran sabu tentu ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja, melainkan bukti nyata bahwa kerusakan moral telah menembus dinding-dinding sekolah. Pelajar yang seharusnya menjadi aset masa depan bangsa, generasi penerus bangsa, kini justru menjadi pion dalam jaringan peredaran gelap narkotika. Mengapa bisa terjadi?

Kegagalan Sistemik dan Keringnya Ruang Spiritual

Mengapa pelajar bisa terjebak menjadi pengedar? Jika kita hanya menyalahkan individu, maka kita sedang mengabaikan akar masalah yang jauh lebih besar. Maraknya pelajar yang terlibat bisnis haram ini adalah bukti otentik kegagalan sistem hidup saat ini dalam menjaga akal, moral, dan jiwa generasi.

Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan publik telah menciptakan "kekosongan jiwa" pada diri pemuda. Agama hanya ditempatkan di ruang privat atau sekadar mata pelajaran tambahan di sekolah yang tidak memiliki implikasi pada perilaku sosial. Akibatnya, standar kebahagiaan mereka bergeser ke arah materialistik dan hedonistik (pemujaan terhadap kesenangan fisik).

Di bawah ideologi kapitalisme, uang menjadi tuhan baru. Pelajar yang hidup dalam tekanan ekonomi atau mereka yang mendambakan gaya hidup mewah secara instan, melihat mengedarkan narkoba sebagai "peluang bisnis" yang menguntungkan tanpa memedulikan halal-haram maupun dampak kerusakannya. Ketika akal tidak lagi terjaga oleh iman, akhlak yang baik menjadi barang langka yang mudah ditukar dengan lembaran rupiah.

Selain itu didukung dengan kurikulum pendidikan saat ini lebih banyak berfokus pada pembentukan tenaga kerja terampil untuk kepentingan industri, bukan pada pembentukan karakter atau kepribadian. Pendidikan agama yang minim durasi tidak mampu membentengi mental siswa dari gempuran informasi dan pergaulan bebas.

Kondisi ini diperparah dengan penegakan hukum yang tumpul. Penangkapan kurir-kurir kecil seperti pelajar ini tidak akan pernah menyentuh akar masalah selama bandar besar dan pemasok utama masih memiliki celah hukum untuk meloloskan diri. Sanksi yang ada saat ini tidak memberikan efek jera yang cukup kuat untuk menghentikan laju peredaran barang haram tersebut di tengah masyarakat.

Mengembalikan Peran Penjaga Generasi dalam Islam

Masalah narkoba di kalangan pelajar adalah masalah sistemik, maka solusinya pun harus sistemik. Tidak cukup hanya dengan sosialisasi atau rehabilitasi, namun harus ada perombakan total pada cara pandang negara dalam menjaga generasi.

Cetak Telur Teflon Anti Lengket, klik di sini!

Dalam pandangan Islam, tujuan pendidikan adalah membentuk individu yang memiliki kepribadian Islam yakni individu yang pola pikir dan pola sikapnya berlandaskan akidah Islam. Negara harus mendesain kurikulum yang menanamkan kesadaran bahwa setiap manusia adalah hamba Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perbuatannya. Dengan fondasi ini, seorang pelajar akan memiliki filter internal yang kuat untuk menolak segala bentuk kemaksiatan, termasuk narkoba, meskipun ada kesempatan atau godaan materi.

Selanjutnya keluarga hadir sebagai benteng pertama. Orang tua tidak boleh hanya menjadi penyedia fasilitas materi, tetapi harus menjadi pendidik utama. Islam mewajibkan orang tua untuk menanamkan dasar-dasar keislaman sejak dini, memberikan keteladanan dalam beribadah, dan membangun komunikasi yang jujur dengan anak. Pendampingan yang bersungguh-sungguh dari orang tua akan membuat anak merasa nyaman dan terarah, sehingga mereka tidak mencari pelarian atau pengakuan di lingkungan pergaulan yang salah.

Selain itu, masyarakat harus kembali ke fungsinya sebagai penjaga moral. Budaya individualistik "urus urusan masing-masing" harus diganti dengan semangat amar makruf nahi munkar. Lingkungan harus aktif menjaga pergaulan remaja, menegur jika ada kejanggalan, dan menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pembentukan kepribadian generasi penerus.

Negara pun harus hadir sebagai yang memiliki otoritas penuh untuk memberikan perlindungan kepada warga negaranya. Dalam sistem Islam, negara akan menerapkan sanksi hukum yang sangat tegas terhadap pelaku kriminalitas narkoba. Sanksi ini bersifat mencegah agar orang lain tidak meniru dan penebus dosa bagi pelaku di akhirat kelak. Hukuman bagi pengedar dan bandar bisa sampai pada tahap hukuman mati (tergantung keputusan qadhi/hakim berdasarkan tingkat kerusakan yang ditimbulkan). Ketegasan negara dalam menghukum pembuat, pengedar, maupun pengguna tanpa pandang bulu akan menciptakan rasa aman dan rasa takut bagi siapa pun yang ingin bermain-main dengan zat perusak akal ini.

Penutup

Keterlibatan pelajar sebagai pengedar sabu adalah luka menganga bagi bangsa ini. Kita tidak bisa terus-menerus mengobati gejalanya sementara akarnya tetap dibiarkan tumbuh. Hanya dengan mencabut akar sekularisme yang merusak dan menggantinya dengan sistem pendidikan serta hukum yang bersumber dari wahyu Sang Khalik, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga mulia dengan keterikatannya dengan hukum syara.

Saatnya kita menyelamatkan generasi sebelum "buah pahit" ini menghancurkan seluruh pohon masa depan bangsa dengan menerapkan syariat Islam secara Kaffah. Waallahu'alam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media dan Framing Buruk yang Menyudutkan

  Narasi menyudutkan yang tayang dalam program Exposed Trans 7 menyoroti kehidupan dan tradisi di pondok secara tidak utuh. Sontak menimbulkan reaksi dari publik dan menuai banyak kritik.  Framing jahat yang menyerang pesantren bukan pertama kali terjadi, kasus ini hanyalah kisah yang berulang-ulang terhadap ulama, pesantren, kelompok dakwah dan simbol Islam lainnya. Intinya, ini hanya salah satu kasus yang sasarannya ingin membidik Islam hingga terkesan buruk.  Tentu ini sesuatu hal yang berbahaya, terlebih ditayangkan dalam media dan dikonsumsi oleh semua kalangan masyarakat. Melalui kasus framing ini, menunjukkan wajah asli media dalam peradaban kapitalisme. Meski sudah bukan rahasia lagi kalau media tidaklah bersifat netral. Ketika sebuah narasi dikontrol berdasarkan kepentingan dalam agenda setting, media akhirnya menjadi corong untuk memuluskan kepentingan tersebut.  Media dalam kehidupan peradaban Kapitalisme bukan hanya sekadar sebuah industri. Dalam sistem...

Hakikat Manusia yang Mukhlis

Oleh : Rakhmawati Aulia  Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: " Orang mukmin yang mukhlis karena Allah adalah orang yang paling baik hidupnya, paling tenang pikirannya, paling lapang dadanya, dan paling gembira hatinya. Ini adalah surga yang disegerakan sebelum surga yang abadi ." ---- Tak sedikit dari kita pada kenyataanya terjebak dalam keshalihan diri. Padahal sebagai seorang muslim kita harus menaikan level diri menjadi versi terbaik, tidak mencukupkan diri hanya menjadi orang yang shalih. Ada derajat yang memang harus dikejar yaitu menjadi orang yang mukhlis. Ternyata menjadi Shalih itu sangat mudah dilakukan, tapi menjadi orang yang mukhlis butuh effort yang besar. Emang apa bedanya orang yang Shalih dan orang yang mukhlis? Orang shalih itu melakukan kebaikan untuk dirinya, orang yang mukhlis menyerukan kebaikan selain untuk dirinya tapi juga orang lain. Orang shalih itu akan sangat mudah dicintai manusia, sedangkan penyeru kebaikan (orang mukhlis) dimusuhi manusia. Berkac...

Skandal Petrodolar : Benteng Keamanan atau Belenggu Kedaulatan?

Berdirinya pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Di balik kehadiran militer tersebut, terdapat narasi besar mengenai upaya AS mempertahankan dominasi global melalui sistem keamanan yang berkelindan dengan ekonomi. Akar masalah ini bermula pada era 1970-an, saat nilai dolar AS mengalami guncangan hebat dan terancam runtuh setelah dilepaskan dari standar emas (Nixon Shock). Di sisi lain, Arab Saudi sedang menikmati masa booming minyak yang menjadikannya negara kaya baru dalam waktu singkat. Kondisi ini menarik perhatian Henry Kissinger, tokoh diplomasi AS, yang melihat peluang untuk menyelamatkan ekonomi negaranya melalui Arab Saudi. AS datang menawarkan skema pertukaran yang kini kita kenal sebagai sistem Petrodolar. Dalam kesepakatan ini, Saudi setuju untuk menjual minyaknya hanya dalam mata uang dolar AS. Sebagai imbalannya, Washington memberikan jaminan perlindungan militer penuh bagi kerajaan tersebut. Lebih jauh lagi, Saudi mengi...