Sistem yang Berorientasi Materi
Fenomena konsumerisme ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari sistem ekonomi kapitalis sekuler yang tengah mencengkeram dunia. Dalam paradigma ini, kebahagiaan hanya diukur dari kepemilikan materi. Orientasi utamanya bukanlah kemaslahatan manusia atau kelestarian bumi, melainkan akumulasi keuntungan bagi para pemilik modal.
Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK memperkirakan Indonesia menghasilkan sekitar 33,79 juta ton sampah sepanjang tahun 2024. Meskipun angka ini sedikit menurun dibanding tahun 2022 yang mencapai 37,6 juta ton, volumenya tetaplah mengkhawatirkan.
Produk sengaja diciptakan dengan siklus hidup yang pendek agar roda konsumsi terus berputar. Dampaknya, bumi berubah menjadi tempat penampungan sampah raksasa. Tumpukan sampah yang menggunung bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan bukti nyata bagaimana sistem yang mengabaikan aturan Sang Khaliq membawa kerusakan di muka bumi (fasad fil ardh).
Muslimah Menjadi Pengatur, Bukan Korban Pasar
Sebagai seorang Muslimah, sudah saatnya kita berhenti menjadi korban pasar. Islam telah memberikan panduan jernih agar kita tidak terjebak dalam gaya hidup destruktif. Allah SWT berfirman:
"...dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan..." (QS. Al-Isra: 26-27).
Coba deh klik di sini Mukena Travel yang siap menemani perjalananmu
Prinsip qana’ah (merasa cukup) dan zuhud bukanlah bentuk permusuhan terhadap dunia, melainkan upaya menempatkan dunia pada porsi yang semestinya. Muslimah yang cerdas akan tegas memilah: mana kebutuhan primer demi ketaatan, dan mana keinginan semu yang hanya akan menambah tumpukan sampah.
Sinergi Kesadaran dan Peran Negara
Namun, kesadaran individu saja tidaklah cukup. Kita membutuhkan peran negara sebagai pelindung (ra'in) dan pengatur urusan umat. Negara harus mampu mengontrol mekanisme pasar agar tidak terjadi eksploitasi oleh produsen besar. Regulasi yang berlandaskan syariat akan memastikan setiap kebijakan ekonomi memprioritaskan kelestarian lingkungan dan keberkahan, bukan sekadar angka-angka materi.
Mari berhenti menjadi pengikut tren yang merusak. Saatnya kembali pada sistem Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan alam secara harmonis. Bumi yang terawat adalah amanah yang harus dijaga demi generasi mendatang. Jika bukan kita yang memulai perubahan dengan kacamata Islam, lalu siapa lagi?

Komentar
Posting Komentar